BEKASI (Arrahmah.com)
- Dakwah islamiyah tak bisa dipisahkan dari dakwah
mencetak generasi qurani. Diperlukan para dai penghafal Al-Qur’an untuk
membangkitkan kesadaran umat terhadap lima kewajiban terhadap Al-Qur’an:
membaca, tadabbur, mengamalkan, mendakwahkan dan berhukum dengan Al-Qur’an.
Untuk menjalin
ukhuwah islamiyah dan memotivasi thalibul ilmu dalam rangka
memperbanyak dai menghafal Al-Qur’an, digelar Musabaqah Hifzhul Quran se-Jawa
di Islamic Centre Al-Islam Bekasi Jawa Barat, Kamis, (28/3/2013). Hajatan besar
ini digelar oleh Yayasan Sheikh Eid bin Mohammad Ali Tsani bekerja sama dengan
Yayasan Ash-Shilah Jakarta dan Yayasan Al-Islam Bekasi.
Sejak pukul
07.30 WIB hingga magrib, 52 peserta dari berbagai pesantren se-Jawa mengasah
ketajaman dan akurasi hafalan di hadapan sejumlah juri yang mumpuni. Lomba
hafalan Al-Qur’an dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan usia dan jumlah
hafalan, antara lain: Kategori MHQ 30 juz (untuk umum), MHQ 15 juz (kuliah dan
umum) usia SD – D3, dan MHQ 5 juz (khusus undangan usia SD – SMP).
Juara 1 untuk
kategori MHQ 30 juz diraih oleh Shibghatullah dari Pesantren Ulul Albab
Sukoharjo dengan nilai 104,5. Disusul juara 2 oleh Al-Hasan As-Syahidan dari
Pesantren Bina Madani Bogor dengan nilai 103 dan juara 3 oleh Muhammad Faqih
Fuqoha dari Pesantren Baitul Hikmah Sukoharjo dengan nilai 101.
Sedangkan juara
1 untuk kategori MHQ 15 juz diraih oleh Muhammad Al-Fatih dari Pesantren Darul
Qur’an Mulia Bogor dengan nilai 106,5. Juara 2 diraih Muhammad Ashrofi dari
Pesantren Baitul Hikmah Sukoharjo dengan nilai 103,5, disusul juara 3 oleh
Fajar Al-Munawar dari Pesantren Kafila Jakarta dengan nilai 103.
Sementara
kategori 5 juz, juara 1 diraih oleh Muhammad Fikri dari Pesantren Darul Qur’an
Mulia Bogor dengan nilai 104. Disusul juara 2 oleh Muhammad Agil Ismail dari
Pesantren Bina Madani Bogor dengan nilai 103,5 dan juara 3 oleh Teuku Reza
Fahlevi dari Pesantren Al-Bina Bekasi dengan nilai 103.
Dalam pidato
penutupannya, Ustadz Farid Achmad Okbah MA mengapresiasi lomba hafalan
Al-Qur’an tingkat Jawa ini. Pimpinan Yayasan Al-Islam Bekasi berharap agar
tahun depan acara ini bisa ditingkatkan menjadi Musabaqah Hifdzul Quran (MHQ)
Tingkat Nasional. Bahkan lebih jauh ia berobsesi supaya Musabaqah Hifzhul
Qur’an ini ditingkatkan menjadi Musabaqah Tadabbur Al-Qur’an.
Ustadz Farid
mengungkapkan statistik yang sangat memprihatinkan, bahwa dari 800 ribu masjid
di Indonesia, 89.9 persen masjid tidak ada kegiatan lain kecuali shalat. Bahkan
tak jarang masjid-masjid itu hanya menggelar kegiatan shalat jamaah magrib dan
isya saja, tidak jamaah lima waktu. Tidak ada taklim Al-Qur’an, taman
pendidikan Al-Qur’an, dan tidak ada kegiatan dakwah. “Dari 800 ribu masjid di
seluruh Indonesia, hanya 10.1 persen yang ada kegiatan dakwahnya,” paparnya.
Menghadapi
fenomena tersebut, Ustadz Farid berharap agar para dai penghafal Al-Qur’an itu
kembali ke basis masjid untuk memasyarakatkan gerakan cinta Al-Qur’an. “Setelah
mengikuti musabaqah hifzhul Al-Qur’an ini, antum semua jangan berhenti di sini.
Lanjutkan kembali ke pos-pos dakwah di masjid karena kebangkitan Islam itu
dimulai dari masjid,” tegasnya.
Mengutip fatwa
Ibnul Qayyim Al-Jauziah, Ustadz Farid mengingatkan bahwa kewajiban umat Islam
terhadap Al-Qur’an bukan hanya untuk menghafalkan Al-Qur’an. “Kewajiban
terhadap Al-Qur’an ada lima, yaitu membaca, tadabbur, mengamalkan, mendakwahkan
dan berhukum dengan Al-Qur’an,” paparnya. “Inilah yang harus selalu kita
lakukan. Kita dakwahkan umat agar berhukum dengan Al-Qur’an,” tutupnya.
(alislamu.com/arrahmah.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar